Sunday, January 15, 2012

Pengharap Sepenuh Masa

Aku bukan lagi lumpur yang bisa yang buat kau jatuh terlalu dalam.
Bukan lagi baja jiwa yang bisa membunga taman hati kau yang dah lama layu.

Aku cuma si pengharap.
Yang kerja sepenuh masa.
Tanpa gaji.
Isnin sampai Ahad.

Tapi sakit jadi si pengharap ni sebenarnya.
Minta semua tahu.

Sunday, August 21, 2011

Terma & Syarat


Yang aku suka pasal kita ialah legitimasi yang kita ada,
Sebab dunia ini dunia undang-undang,
Yang mana semuanya berterma dan berjela,
Yang mana semuanya bersyarat dan tersirat.

Tapi kita ini bebas terma,
Kita ini bebas syarat.

Kita ini kompleks yang amat,
Yang faham kita aku,
Yang faham kita engkau,
Yang faham engkau aku,
Yang faham aku engkau.
Kompleks kan?

Tak akan aku letak terma dan syarat.
Sungguh.
Selagi kau ikhlas.

Tuesday, July 26, 2011

Manusia Rapuh Kita Ini


Manusia rapuh kita ini,
Semacam patung kertas.
Nyawa kita ini sehelai kertas A4 saja.
Apa nak gebang?

Bila hidup kat dunia ni,
Mak kata perlu sentiasa beringat-ingat.
Bukan apa, takut lupa.
Takut kalau rasa diri tu superior,
Takut kalau rasa diri tu kebal,
Takut kalau terlupa pasal ajal.

Hukum ajal.
Tak pernah kenal kau siapa.
Tak akan tanya, 'Hey, umur kau berapa?'
Tak akan peduli, 'Oh, kau Perdana Menteri ke?'
Tak akan kisah, 'Eh, amalan kau belum cukup ya?'

Kun-Fa-Ya-Kun!
Tarik nyawa!

Tuhan itu maha agung, maha besar.
Jika A katanya, A lah.
Jika B bilangnya, B lah.
Kita ini jangan persoalkan,
Kita ini jangan pertikai.
Kerna tak pernah lagi dalam tamadun Tuhan itu silap.
Kerna tak akan pernah Tuhan itu salah dalam aturan dunia.
Ini kan pula urusan langit ketujuh?

Belajar untuk redha.
Terima untuk menerima.

Kerna mati itu pasti.
Tapi yang hidup harus terus meneruskan kehidupan.
Yang tiada tentu sekali akan dikenang.

Kamu yang bernyawa,
Berpahalalah selagi sempat.
Kamu yang tiada,
Kita jumpa nanti di akhirat.

Satu hari nanti.
InsyaAllah.

Tuesday, July 12, 2011

Kunyah Lidah

Hey kalian,
Kan si tua itu pernah berkata?
Terlajak perahu bisa diundur.
Terlajak kata, tubuh binasa.
Mengapa kita ini masih tegar?
Cakap lepas, tak butuhkan waras?

Kita ini manusia teroris, askar jadian.
Yang pedang kita lidah tajam.
Yang kata-kata kita sebenarnya lebih sakit dari peluru hidup.
Bila lidah ini jadi defensi mekanisme diri, dibawa pula ke sana ke mari.
Mampuslah, siapa celaka pasti jadi mangsanya.

Aduhai, memanglah lidah sifatnya lembut, lentuk dan basah.
Warnanya comel, semanis merah jambu.
Namun awas, minta semua tolong jangan tertipu!
Kerna lidah itu sifatnya pendusta, favouritenya memfitnah, egonya tinggi jika marah.

Hebat sungguh lidah manusia ini kan?
Hati keras macam batu bisa cair ala’ ABC manis susu sejat,
Jiwa panas macam api neraka bisa sejuk ala’ suhu kutub salju.
Tapi hey, jangan teruja ya.

Kerna lidah manusia jugalah;
Yang bersetia tidak lagi bersetia,
Fitnah dongeng karut jatuhkan semua air muka.
Keji umpat hasut buat kita manusia saling tak tegur sapa,
Caci dan maki sana-sini buat kita sama benci selamanya.

Bila memang cakapnya lepas, tiada apa mampu kamu lakukan.
Yang terluncur takkan bisa mampu ditarik balik,
Yang dah dikata akan terus diperkatakan yang lain.

Andai ada rasa sesal,
Cubalah makan dan telan kata-kata kita sendiri,
Cubalah kunyah lidah masing-masing,
Sampai lumat isinya, sampai hancur uratnya.
Sampai tak ada lagi sendi yang bisa lukakan jiwa manusia.

Mana tahu selepas ini, banyak hati akan lebih terjaga?

Wednesday, April 6, 2011

Ini Hati, Bukan Gigi

Kamu.
Figura yang pandangku cukup indah.
Cukup sempurna, tiada cela.
Yang selalu ku julang tinggi dulu itu kamu.
Yang jadi prioriti tetap hidupku dulu itu kamu.
Ya, kamu kamu kamu itu.

Kamu juga.
Figura sama yang hancurkan hati,
Yang musnahkan rasa, yang sepak terajang jiwa,
Sampai rapuh, sampai longlai, sampai kosong,
Sampai tumbang segala prinsip waras diri.

Kalau terlalu tebal tembok konfidenmu,
Fikir kamu; hatiku memang seratus peratus untukmu,
Ayuh, mari kita renung semula.
Kerna yang kau sakitkan sekarang hati, kerna yang kau mainkan sekarang hati.

Kalau sakit gigi,
Bisa rasa sakitnya, bisa nampak lubangnya.
Pergi saja ke pusat dentistri,
Cabut, tampal dan baik semula,
Seperti biasa, seperti sempurna.

Kalau kotor gigi,
Bisa nampak kuningnya, bisa bau busuknya,
Capai saja ubat gigi dan berus,
Gosok-gosok, tonyoh-tonyoh sampai berdarah segala gusi,
Hasilnya pasti putih semula,
Seperti biasa, seperti sempurna.

Gigi itu sifatnya keras macam batu,
Gigi itu sifatnya kuat dan tabah,
Tapi fikirlah, sekuat mana gigi itu,
Satu hari akan terpatah juga dengan sendirinya.
Inikan pula soal hati?
Yang sah-sah halus sifatnya, yang terang-terang sensitif jiwanya.
Mengapa masih lagi kamu tegar nak menyakiti?

Salah-salahmu bukan seperti sakit gigi,
Bukan hanya objek celah gigi,
Yang bisa dibius, dirawat dan pulih normal,
Yang bisa diberus, dicuci dan putih wangi segar kembali,
Perlu kau ingat, ini bukan sakit gigi, ini sakit hati.

Tingkah kau akan terus tetap menyakiti hati,
Jadi parut tanpa jahitan yang lukanya masih rasa sampai bila-bila,
Kiranya sampai sungguh hatimu menghampakan aku,
Sampai sungguh hatimu tak butuhkan diriku,
Habisnya aku ini apa ya di hati kamu selama ini?

Yang kau sedang berurusan sekarang dengan hati.
Hati aku.

Sunday, March 27, 2011

Arogan

Maaf, ini bukan pentas agung Istana Budaya.
Bukan epik gah maha hebat, skala-besar pementasan teater.
Bukan juga edisi muzikal berbunga-bunga, bercoklat-coklat yang terlalu manis dan bisa bikin kau teruja.
Tapi pentas usang ini adalah pentas diri, yang lantainya cermin terang untuk kita bikin refleksi.
Pentas bumi, pentas manusia macam kita pijak kaki.

Kau terima tiket tayangan tanpa meminta.
Dan sejak momen itu, kau terus terus terus menjadi audien setia.

Sebenarnya yang kau harapkan dari aku, cerita cinta pengakhiran bahagia.
Tapi maaf ya bila yang kau tonton, watak hero dayus dan sisi diri yang tidak, dan tidak mungkin berubah menjadi hero sempurna.
Yang bila kau fikir, langit cerah kuning terang untuk kita sampai bila-bila.
Yang kau dapat, awan larat petir amarah dan hujan sepi untuk hari-hari selamanya.

Mana adilnya?

Aku ini karakternya berubah.
Awal cerita edisi cinta, sikapnya sempurna.
Bila mata kamu jadi kamera, merakam aku sebagai si cinta sempurna.
Aduh! Kontradiksi sungguh jalan ceritanya!
Mengapa kelihatannya di episod akhir watakku cukup antogonis?
Mana lagi si cinta sempurna, dan dialog aku-cinta-kau-selamanya?

Babak akhirnya, aku tahu aku inilah yang akan paling dibenci.
Hasil idea, garapan, dan pembentukan karakter diri aku sendiri.
Yang mana kononnya kamu itulah yang ego, yang tak cukup memahami.
Faktanya kamu itu yang sempurna, dan sempurna itu kamu, bukan aku.

Hari ini, di pentas yang sama, aktor utamanya masih aku.
Kamu itu, audien di barisan hadapan yang lelah telah pun beransur lalu.
Terima kasih kerana sanggup saksikan, babak jelik bila diri aku arogan.
Tabir langsir terus menutup celah-celah gelap pentas.
Aku akhirkan semua rasa, segala ruang plot cinta kita.
Campak skrip, buang prop dan kostum segala.
Fikir aku, mana mungkin ada sambungan ceritanya jika tiada kamu audiennya?

Aku aktormu.
Kamu audienku.
Kini biar aku lepas watak aroganku.
Biar kamu senang dengan hero barumu.

Sunday, January 23, 2011

Manusia Tin Biskut Kosong

Hey,
Pernah ketemu manusia ini?
Manusia tin biskut kosong aku namakannya.
Yang bila berjalan, lagaknya konon hebat.
Bila bertutur, suaranya kuat.
Bila datang, jengkelnya teramat.
Bila ditanya, gebangnya kecoh sangat.

Haih.
Aku bisa sabar.
Sabar, sabar, dan sabar dan sabar.
Tapi ada masanya aku tak boleh blah!
Okay, itu aku tahu bahasa pasar,
Tapi bila kurang ajarnya cukup pekat,
Yang diberi aku rasa 'Oh, pahit! Eh, kelat!'

Seperti sebuah tin biskut kosong,
Kau tak ubah seperti sebuah.
Kau ting! Kau tang! Kau tong!
Bunyi kuat, isi kosong.

Ketuk diri sendiri, campak ego diri.
Bukalah tin biskut kosong itu!
Isikan ramuan baru, resipi kesukaan ramai!
Yang tepung akhlaknya biar molek.
Yang gandum tuturnya biar sopan.
Yang gula katanya lebih manis dan tak menyakitkan.
Yang besi tinnya bisa jadi cermin diri.

Haih.
Tolong jangan jadi manusia tin biskut kosong.
Tolong.