Kamu.
Figura yang pandangku cukup indah.
Cukup sempurna, tiada cela.
Yang selalu ku julang tinggi dulu itu kamu.
Yang jadi prioriti tetap hidupku dulu itu kamu.
Ya, kamu kamu kamu itu.
Kamu juga.
Figura sama yang hancurkan hati,
Yang musnahkan rasa, yang sepak terajang jiwa,
Sampai rapuh, sampai longlai, sampai kosong,
Sampai tumbang segala prinsip waras diri.
Kalau terlalu tebal tembok konfidenmu,
Fikir kamu; hatiku memang seratus peratus untukmu,
Ayuh, mari kita renung semula.
Kerna yang kau sakitkan sekarang hati, kerna yang kau mainkan sekarang hati.
Kalau sakit gigi,
Bisa rasa sakitnya, bisa nampak lubangnya.
Pergi saja ke pusat dentistri,
Cabut, tampal dan baik semula,
Seperti biasa, seperti sempurna.
Kalau kotor gigi,
Bisa nampak kuningnya, bisa bau busuknya,
Capai saja ubat gigi dan berus,
Gosok-gosok, tonyoh-tonyoh sampai berdarah segala gusi,
Hasilnya pasti putih semula,
Seperti biasa, seperti sempurna.
Gigi itu sifatnya keras macam batu,
Gigi itu sifatnya kuat dan tabah,
Tapi fikirlah, sekuat mana gigi itu,
Satu hari akan terpatah juga dengan sendirinya.
Inikan pula soal hati?
Yang sah-sah halus sifatnya, yang terang-terang sensitif jiwanya.
Mengapa masih lagi kamu tegar nak menyakiti?
Salah-salahmu bukan seperti sakit gigi,
Bukan hanya objek celah gigi,
Yang bisa dibius, dirawat dan pulih normal,
Yang bisa diberus, dicuci dan putih wangi segar kembali,
Perlu kau ingat, ini bukan sakit gigi, ini sakit hati.
Tingkah kau akan terus tetap menyakiti hati,
Jadi parut tanpa jahitan yang lukanya masih rasa sampai bila-bila,
Kiranya sampai sungguh hatimu menghampakan aku,
Sampai sungguh hatimu tak butuhkan diriku,
Habisnya aku ini apa ya di hati kamu selama ini?
Yang kau sedang berurusan sekarang dengan hati.
Hati aku.